DASH diet, the BEST diet!

Oleh: Yosephin Anandati Pranoto, RD 

March 2017

Apa sih yang dimaksud dengan Diet?

Apakah artinya usaha untuk menurunkan berat badan (BB)?? Ternyata bukan lho, diet berarti pengaturan pola makan, baik porsi, ukuran maupun kandungan Gizinya. Kata diet sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti cara hidup. Mungkin banyak di antara kita yang salah kaprah dengan pemahaman kata diet selama ini, padahal setiap manusia pasti membutuhkan dan melakukan DIET. Nah, kali ini kita akan belajar dan berdiskusi bersama tentang bagaimana menerapkan DIET yang tepat dan bermanfaat bagi kesehatan.

Sejak tahun 1997 melalui sebuah penelitian NHLBI (National Heart, Lung and Blood Institute) yang dipublikasikan oleh The New England Journal of Medicine dibuktikan bahwa hipertensi dapat dikendalikan melalui DASH Diet (Dietary Approaches to Stop Hypertension). Diet berbasis lifestyle ini terbukti dapat menurunkan 8-14 mmHg tekanan darah, lebih banyak dibandingkan dengan diet rendah garam (yang biasanya disarankan oleh tenaga kesehatan pada pasien hipertensi) yang dapat menurunkan 2-8 mmHg tekanan darah kita maka sejak saat itu, DASH diet menjadi pilihan yang makin banyak disukai dan direkomendasikan oleh praktisi kesehatan.

Seberapa ampuh DASH diet dan perubahan gaya hidup bisa membantu menstabilkan tekanan darah kita?

Mengusahakan tensi agar normal dapat dilakukan dengan hal-hal seperti ini:

  1. Menurunkan berat badan (BB) yang berlebih –> setiap 10 kg penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah sebesar 5-20 mmHg
  2. Aktivitas fisik yang rutin à menurunkan 4-9 mmHg
  3. Mengurangi konsumsi alkohol (membatasi dalam jumlah normal cenderung rendah) à menurunkan 2-4 mmHG
  4. Menerapkan DASH diet (menurunkan hingga 8-14 mmHg)

Contoh penerapannya seperti ini: misalkan saya memiliki tekanan darah 130/80 mmHg (masuk ke prehipertensi), kemudian saya berolahraga secara rutin dan menerapkan pola DASH diet, saya akan bisa menurunkan tekanan darah sebanyak 6-13 mmHg dan mencapai tekanan darah yang normal.

Mengenal DASH Diet lebih dalam…

Coba masukkan kata kunci DASH diet di browser anda, pasti berbagai halaman muncul dengan berita yang sama. Mengapa DASH diet ini mendapat peringkat diet terbaik dari berbagai organisasi kesehatan dunia hingga tujuh tahun berturutu-turut (begitu juga di tahun 2017 ini)?  Nah, berikut beberapa keunggulan diet ini:

  1. Berakar pada sains! Diet ini bukan “fad diet” yang menjanjikan penurunan berat badan (BB) secara cepat namun berbahaya bagi kesehatan. DASH diet didukung oleh banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa diet ini sungguh efektif dan AMAN
  2. DASH diet mengedepankan keseimbangan gizi dan porsi makan normal. Intinya, diet ini mengambil aturan-aturan “common sense” dan meletakkannya pada sebuah bagan rencana yang mudah
  3. Diet ini efektif untuk membantu penurunan BB dalam jangka pendek maupun jangka panjang
  4. Efek kesehatan yang ditawarkan tidak hanya untuk menurunkan tekanan darah, namun juga memberikan efek perlindungan dari penyakit-penyakit seperti: osteoporosis, kanker, jantung, stroke dan diabetes
  5. Diakui dan direkomendasikan oleh pakar kesehatan di seluruh dunia seperti ahli gizi, konsultan gizi dan dokter spesialis yang menangani penyakit diabetes, jantung dan program penurunan

 

PRINSIP DALAM PENERAPAN DASH DIET:

  • Mengkonsumsi sumber kalium tinggi seperti buah dan sayuran (semua jenis buah dan sayur!) sebanyak 10 porsi sehari (tiap porsinya ±100 g) à pastikan dalam 3x makan utama ada sayuran sebanyak 1-2 cangkir (tanpa kuahnya) dan buah 1 potong sedang (60-80 g). Dengan begitu anda telah memenuhi porsi sayur dan buah sebanyak 6-9 porsi bukan? Kekurangan 1-4 porsinya dapat dinikmati di jam-jam anda biasanya ngemil. Pilih sayur dan buah yang tidak bertentangan dengan kondisi kesehatan anda (seperti contohnya jika memiliki asam urat, jangan pilih bayam).
  • Mengkonsumsi kacang-kacangan dan biji-bijian yang merupakan sumber makanan yang kaya akan magnesium, kalium dan serat. Nikmati 4-5 porsi kacang-kacangan (kacang merah, almond, kedelai, kacang tanah, dsb.) dan biji-bijian (jagung, gandum, barleys, dsb.) dalam makan utama maupun untuk selingan/cemilan. Ukuran porsi untuk kacang-kacangan dan gandum ini adalah sebanyak genggaman 1 tangan anda (±45 g).
  • Diet ini juga didampingi dengan perubahan gaya hidup seperti: berolah raga rutin (3-5 kali seminggu dengan durasi 30-60 menit), memilih makanan yang rendah garam dan sodium dan mengontrol berat badan agar tetap
  • Golongan produk susu rendah lemak/tanpa lemak dikonsumsi 2 cups (sekitar 200cc). Contoh olahan susu yang baik seperti yoghurt dan kefir.
  • Golongan lemak dan minyak dikonsumsi 2-3 porsi sehari (satu porsinya sekitar 1 sdt). Gula dan olahan tinggi gula dibatasi hingga di bawah 5 porsi setiap minggu (ukuran satu porsi sebanyak 1 sdt)
  • Kurangi, jika perlu pantang makanan yang diolah dengan tinggi sodium seperti makanan kalengan, sosis, nugget dan masakan yang menggunakan terlalu banyak bumbu tambahan seperti petis, kecap, saus-saus

 

Mereka yang direkomendasikan untuk menerapkan DASH diet adalah:

  • SEMUA ORANG dewasa sehat
  • Penderita hipertensi
  • Pendertia hiperkolesterol/dislipemia
  • Mereka yang ingin mencapai BB ideal
  • Penderita dengan resiko gangguan/penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Penderita asam urat *
  • Penderita diabetes *

*dengan pengawasan dan konsultasi khusus dari ahli gizi/dietitian

Yang tidak boleh menerapkan DASH diet: penderita penyakit gagal ginjal, luka saluran cerna, gagal jantung dan stroke.

 

KESALAHAN YANG BIASA TERJADI DALAM MENERAPKAN DIET :

Hanya semangat di hari-hari pertama/ satu minggu awal Menginginkan hasil yang instan (cepat dan drastis) Mengkonsumsi gula tersembunyi

Mengkonsumsi lemak buruk tersembunyi

Tidak berolahraga

TIPS DAN KUNCI SUKSES DALAM MENERAPKAN DIET :

Buat target POSITIF, tulis dan letakkan di tempat strategis Lakukan olah raga rutin

Bentuk kelompok/grup untuk saling mendukung perubahan gaya hidup

Minta dukungan dari orang terdekat

Mencari informasi dari yang berkompetensi (ahli kesehatan, terutama Ahli Gizi/Dietitian)

Bersyukur dan sabar dalam proses

 

Sumber-sumber (pustaka):

  • JNC VII. 2004:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK9633/table/A32/?report=object only

  • DASH 2001. National Institutes of Health:

http://www.nih.gov/news/pr/apr97/Dash.htm

  • 2009. Nutrition in The Aged. Boca Raton: CRC Press.
  • Berendsen et al (2017). DASH, cognitive function, cognitive decline in American older women (Science Direct).
  • Juraschek et al (2016). DASH, sodium intake on serum uric acid (Circulation Journal).
  • Chiv et al (2016). DASH & higher-fat DASH on blood pressure and lipids and lipoporoteins (AJCN).
  • Rebholz et al (2016). DASH and risk of subsequent kidney disease (Science Direct).
  • Soltani et al (2016). DASH diet on weight and body composition in adult (Obesity, Wiley).
  • Zade et al (2015). DASH for non-alcoholic fatty liver disease (Wiley).
  • Salehi-Abargouei et al (2013). DASH on fatal/non-fatal CVD-incidence systematic review & meta-analysis on observational prospective study (Science Direct).
  • Juraschek et al (2016). DASH for gout patient (Jcom Journal).
  • Soltani et al (2017). DASH on serum in inflammatory markers (Science Direct).
Advertisements

ALKAPTONURIA (BLACK URINE DISEASE)

Sir Archibald Garrod’s early twentieth-century classic ideas of inherited metabolic disorders were initiated by the phenomenon of darkened urine on exposure to air. Later this was known as alkaptonuria or abbreviated as AKU (Rodwell et al., 2015). NHS stated that AKU as a very rare inherited disorder. This disease is caused by an absence of an enzyme that breaks down homogentisate (HGA). To inherit this disease from our parents, we will need two copies of the faulty HGD gene (one from each parent) to develop AKU (“Alkaptonuria,” n.d.).  The enzyme that causes this condition is called homogentisate-1, 2-dioxygenase (HGD). It was missing because of a recessive mutation in gene HGNC: 4892 (Nemethova et al., 2015). Most recent studies show that the expression of this gene is only seen in the liver and kidney (Ranganath, Timmis, & Gallagher, 2015).

The presence of this disease is very low in the population with 1:1,000,000-250,000 prevalence (Nemethova et al., 2015). About 950 AKU patients in 61 countries have been reported so far, and the highest number (208 cases) was from Slovakia and more than 50% case is children (AKU Society). The distribution of AKU case reported in 2013 can be seen on the picture below:

map

(Mistry, J. B., Bukhari, M., & Taylor, A. M., 2013)

 Biochemistry

The biochemistry faulty in AKU is located in phenylalanine and tyrosine catabolism, where the enzyme HGD works to catalyze the reaction to yield maleylacetoacetate from HGA (Rodwell et al., 2015). The related pathway showed in the figure provided below:

biochem

(Phornphutkul et al., 2002)

The defected pathway causing the buildup of HGA. The buildup caused by the failure to break it down further on the reaction. This condition leads to the manifestation of disease sign and symptoms depending on where the buildup is located.

The diagnosis of AKU is based on the detection of a significant amount of HGA in the urine by gas chromatography-mass spectrometry analysis. The amount of HGA excreted per day in individuals with AKU is usually between one and eight grams (Introne, 2016). In AKU patients, HGA buildup leads to the up to 2,000 times than normal rate (Phornphutkul et al., 2002).

Sign and Symptoms

Several characteristic symptoms of AKU are urine that darkens on standing, ochronosis in certain tissues and degenerative arthropathy (AKU Society). The darkened urine on-air exposure caused by the oxidation of HGA that is excreted in the urine. The color change of urine shown below:

urine

(Phornphutkul et al., 2002)

Arthritis and ochronosis or pigmentation of connective tissues manifested later on the progression of AKU due to oxidation of HGA to benzoquinone acetate that binds to this tissues (Rodwell et al., 2015).  Ochronosis process is involving a melanin-like pigment that produced in connective tissue. The tissue structure becomes more rigid due to the alteration of this pigment (Ranganath, Timmis, & Gallagher, 2015). Several manifestations of ochronosis can be found in several sites, such as:

  • Eyes: brown pigmentation of the sclera in between of cornea and the outer and inner canthi, pigment deposition may also be seen in the conjunctiva and cornea (the pigmentation does not affect vision. The discoloration of eyes shown below:

eye.png

(Phornphutkul et al., 2002)

  • Ear: cartilage pigmentation is seen in the concha and antihelix, the cartilage is slate blue or gray and feels irregular or thickened, pigmentation may also appear in cerumen or earwax. The discoloration of ears shown below:

ear

(Phornphutkul et al., 2002)

  • Skin: pigment also appears in perspiration, it may cause the discoloration of clothing
  • Palms: a deep purple or black discoloration may be seen on the skin of the hands, corresponding to the underlying tendons, or in the web between the thumb and index finger. The discoloration of palm shown below:

hand

(Introne, 2016)

Arthropathy is the most severe symptom of AKU.  The collagen that becomes more rigid and stiff leads to irregular transmission of mechanical loading and remodeling through cartilage to the primary bone. The subchondral plate may develop microscopic cracks and these abrasive structures contribute to cartilage destruction (Gallagher, Ranganath, & Boyde, 2015).

A cardiovascular manifestations in AKU patient is rare. The ochronosis can manifest in the heart valves, aorta, pericardium, endocardium and coronary arteries. Aortic stenosis is the most commonly reported cardiovascular manifestation of AKU disease (“Black Heart at Surgery – Primary Diagnosis of Alkaptonuria at Surgery,” 2017).

Nutrition Implications

A logical approach to AKU disease is placing diet or nutrition therapy. Protein intake influences the disease and treatment strategy should be started from childhood. Long-term compliance can be challenging but surely will improve the quality of life. There is still no proof of efficacy on the antioxidant therapy for this disease, such as ascorbic acid or vitamin C use (Ranganath, Timmis, & Gallagher, 2015).

The progression of AKU can be mitigated if the condition is diagnosed in childhood by restricting protein in the diet. The low protein intake may reduce levels of tyrosine and phenylalanine. For adults, this diet can be useful in supporting nitisinone treatment by reducing the risk of potential side effects (“Alkaptonuria,” n.d.). An article by Rovenský & Urbánek  (2015) stated that diet to do a protein reduction in majority of patients resulting on a decrease of HGA.

In 1998, the protein restriction diet suggested as an age-dependent therapy. The study conducted by De Haas V, et al. resulted in a significantly lower excretion of homogentisic acid in the urine of children younger than 12 years (p < 0.01), whereas this effect was less obvious for adolescent and adult patients.

Treatment Strategies

There is no specific cure for Alkaptonuria. Since this is a lifelong condition, we can only target the sign and symptoms of disease (“Alkaptonuria,” n.d.). Nitisinone is a medication that still in experimental phase, but with some promising results for AKU disease treatment. This drug has been shown an effective inhibiting factor of ochronosis in AKU mice and lowering HGA concentration in the blood of AKU patients. Nitisinone can help to adjust the affected tyrosine pathway and yet still in need of further study to define the most effective time of life to begin nitisinone treatment (Ranganath, Timmis, & Gallagher, 2015).

Surgical treatment may be effective on more progressive condition of the disease. For example, an aortic valve replacement for symptomatic aortic stenosis was proven to be beneficial for the survival of a patient (“Black Heart at Surgery – Primary Diagnosis of Alkaptonuria at Surgery,” 2017).

The AKU society suggests several things to manage joint pain for AKU patients, such as:

  • Physical and occupational therapy are effective to maintain flexibility and strength of muscle
  • Hydrotherapy or swimming is ideal because of the minimum strain on the joints
  • Avoiding high impact sports and labor may help delay osteoarthritis progression (this activity can stress the spine and large joints)
  • Regular use of NSAID or anti-inflammatory drugs with painkillers
  • Surgery to replace joint can be a form of pain relief in further cases of AKU where the joints become too damaged

There are several current and future treatment for AKU disease according to Mistry, et.al. (2013):

  • Lifestyle counseling
  • Physiotherapy
  • Pain control
  • Organ replacement
  • Palliative surgery
  • Liver transplant

–    Reverse pigment binding

–    HGA lowering therapy

–    Nitisinone

–    Enzyme replacement

–    Gene replacement

References:

 AKU Self-Management. (n.d.). Retrieved from https://www.akusociety.org/aku-self-management

Alkaptonuria. (n.d.). Retrieved from https://www.nhs.uk/conditions/alkaptonuria/

Black Heart at Surgery – Primary Diagnosis of Alkaptonuria at Surgery. (2017). Journal of Cardiology & Current Research, 9(5). doi:10.15406/jccr.2017.09.00336

De Haas V , et al. (n.d.). The success of dietary protein restriction in alkaptonuria patients is age-dependent. – PubMed – NCBI. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9870204

Gallagher, J. A., Ranganath, L. R., & Boyde, A. (2015). What does the arthropathy of alkaptonuria teach us about disease mechanisms in osteoarthritis and ageing of joints? Rheumatology, 55(7), 1151-1152. doi:10.1093/rheumatology/kev401

Introne, W. J. (2016). Alkaptonuria. Oxford Medicine Online. doi:10.1093/med/9780199972135.003.0015

Mistry, J. B., Bukhari, M., & Taylor, A. M. (2013). Alkaptonuria. Rare Diseases, 1(1), e27475. doi:10.4161/rdis.27475

Nemethova, M., Radvanszky, J., Kadasi, L., Ascher, D. B., Pires, D. E., Blundell, T. L., … Zatkova, A. (2015). Twelve novel HGD gene variants identified in 99 alkaptonuria patients: focus on ‘black bone disease’ in Italy. European Journal of Human Genetics, 24(1), 66-72. doi:10.1038/ejhg.2015.60

Phornphutkul, C., Introne, W. J., Perry, M. B., Bernardini, I., Murphey, M. D., Fitzpatrick, D. L., … Gahl, W. A. (2002). Natural History of Alkaptonuria. New England Journal of Medicine, 347(26), 2111-2121. doi:10.1056/nejmoa021736

Ranganath, L. R., Timmis, O. G., & Gallagher, J. A. (2015). Progress in Alkaptonuria – are we near to an effective therapy? Journal of Inherited Metabolic Disease, 38(5), 787-789. doi:10.1007/s10545-015-9888-7

Rodwell, V. W., Bender, D. A., Botham, K. M., Kennelly, P. J., Weil, P. A., & Harper, H. A. (2015). Harper’s illustrated biochemistry.

Rovenský, J., & Urbánek, T. (2015). Therapy of Alkaptonuria. Alkaptonuria and Ochronosis, 127-128. doi:10.1007/978-3-319-15108-3_25

Swapna S Khatu1, Yuvraj E More1, Divyank Vankawala1, Deepali Chavan2, Neeta R Gokhale1. (2015). [photograph]. Retrieved from http://www.mjdrdypu.org/article.asp?issn=0975-2870;year=2015;volume=8;issue=1;spage=84;epage=86;aulast=Khatu

Nosocomial Malnutrition: abstract & review

Recognition and Prevention of Nosocomial Malnutrition: A Review and a Call to Action!

ABSTRACT

Introduction and background

Nosocomial malnutrition (NM) can result in increasing rate of morbidity and healthcare cost. From admission process until discharge, malnutrition often missed to be diagnosed. This may lead to complications, longer length of stay and an increasing risk of mortality or readmission.

Purpose of the study

This study discuss about NM scope of problem, association between malnutrition and patient outcomes and describe the impact of nutritional support in hospitalized adult patient.

Hypothesis

NM is potentially preventable and curable with the right regulation and proper application of nutritional care process

Methods

Nonsystematic clinical review

Results

There is lack of consensus regarding on the method of diagnosing NM and nutritional screening tools. A guidance of six characteristics of malnutrition from ASPEN can be utilized to develop better assessment regulation. When acute or chronic inflammation presence current or future risk of malnutrition should also be considered along with: overall intake, weight change, metabolic status, invasive procedure/wound healing.

Conclusion

Prevention of NM and its implication can be obtained from a practice of proper regulation. Multidisciplinary team should implement intervention according to the guidelines that is established.

Practical application

  • Utilize a population-specified screening tools for malnutrition in admission and during hospital stay (regularly)
  • Develop a professional nutrition team (trained dietitian)
  • Continuity of evaluation and modification on the integrated multidisciplinary approach on NM prevention

Limitations

  • Disease-related NM cannot be avoided
  • There are still no consistent nutritional screening tools for adult patient to constitute diagnosis of malnutrition

Reference:

Kirkland, L. L., & Shaughnessy, E. (2017). Recognition and Prevention of NM: A Review and A Call to Action! The American Journal of Medicine130(12), 1345-1350. doi:10.1016/j.amjmed.2017.07.034

HIPERTENSI PADA LANSIA

oleh: Yosephin Anandati Pranoto/Dietetic Internship FK UB

(FACT SHEET)

Mengapa kesehatan lansia perlu untuk diperhatikan?

Ketika seseorang telah memasuki usia lanjut (lansia) seluruh fungsi fisiologis tubuhnya berubah dan berbagai penyesuaian harus dilakukan untuk menjaga kondisi tetap sehat. Menurut WHO, lansia adalah mereka yang telah berusia ≥60 tahun. Kelompok usia ini semakin meningkat jumlah populasinya di seluruh dunia yang berarti usia harapan hidup yang bertambah namun juga berarti dalam beberapa tahun ke depan proporsi penduduk dunia dalam jumlah cukup besar adalah mereka yang berada di usia lanjut. Hal ini dapat menjadi suatu masalah apabila kaum lansia tidak mendapatkan perhatian khusus sedari awal. Mereka yang menginjak usia lanjut tidak lagi berada pada usia produktif dalam hidupnya dan akan memiliki tingkat kemandirian yang semakin rendah (ketergantungan akan orang lain) seiring dengan bertambahnya masalah kesehatan yang mereka miliki. Beberapa masalah yang sering ditemukan pada lansia mencakup: malnutrisi, penyakit kronis, penurunan kognitif dan disabilitas. Penyakit kronis yang sering dialami lansia contohnya adalah hipertensi, penyakit cardiovasculer, dan diabetes serta komplikasinya.

Bagaimana kita tahu seseorang memiliki hipertensi atau tidak?

Menurut  Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (2004), seseorang dinyatakan mengalami hipertensi I  jika pengukuran tekanan darah (lebih dikenal dengan sebutan tensi) menunjukkan angka 140 mmHg untuk sistole (atas) dan/atau 80 mmHg untuk diastole (bawah). Dan jika tensi terukur hingga 160 mmHg untuk sistole dan/ atau 100 mmHg untuk diastole maka seseorang telah masuk dalam kondisi hipertensi II. Pembatasan garam yang dianjurkan kepada seseorang yang mengalami hipertensi tergantung dari kondisi hipertensi yang dialami.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di wilayah Kecamatan Kepanjen, populasi lansia di daerah tersebut sebanyak 10% dari total populasi (937 orang lansia). Dalam penelitian tersebut, dilakukan survey terhadap 15 orang lansia yang datang ke Posyandu Lansia secara rutin dan didapatkan bahwa dari total 15 orang, terdapat delapan orang (53%) yang memiliki tekanan darah di atas batas normal.

Apa yang berbahaya dari hipertensi pada lansia?

Hipertensi pada lansia sangat erat hubungannya dengan kematian dan membutuhkan usaha keras untuk meningkatkan kesadaran akan pencegahan dan perawatannya. Prevalensi penderita hipertensi meningkat seiring meningkatnya populasi lansia di dunia. Nilai tekanan darah yang tergolong dalam kondisi hipertensi adalah ≥ 140 mmHg untuk sistolik dan ≥ 90 mmHg untuk diastolik. Salah satu penelitian yang dikembangkan di Amerika, Eropa, Cina dan Tunisia membuktikan bahwa terapi antihipertensi sedini mungkin dapat memberikan manfaat kesehatan bagi lansia terutama mereka yang berusia di atas 80 tahun. Manfaat kesehatan yang didapat dari pengobatan antihipertensi pada lansia berkaitan dengan resiko seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung hingga kematian. Resiko stroke dapat turun sebesar 28% dan resiko komplikasi penyakit jantung dapat turun hingga 15% dengan pengobatan antihipertensi pada lansia. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan terapi antihipertensi yang terbaik adalah dengan mentargetkan penurunan tekanan darah hingga mencapai ≤150 mmHg. Salah satu penemuan tentang hubungan antara hipertensi pada lansia dengan kematian menyebutkan bahwa lansia yang memiliki kecepatan berjalan tinggi (≥ 0,8 m/s) memiliki resiko lebih tinggi daripada mereka yang memiliki kecepatan berjalan yang rendah (Beckett, dkk., 2012 ; Michelle, dkk., 2012).

Usaha-usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk menjaga dan memperbaiki kondisi hipertensi?

Menurut National Institute of Health, mengusahakan tensi agar normal dapat dilakukan dengan hal-hal seperti ini:

  1. Menurunkan berat badan (BB) berlebih: setiap 10 kg penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah sebesar 5-20 mmHg
  2. Aktivitas fisik yang rutin: menurunkan 4-9 mmHg
  3. Mengurangi konsumsi alkohol (membatasi dalam jumlah normal cenderung rendah): menurunkan 2-4 mmHg

Dalam penelitian yang dilakukan di Kecamatan Kepanjen, temuan data yang didapat menunjukkan bahwa yang terjadi di masyarakat sesuai dengan teori/referensi ilmiah yang terkait. Hipertensi erat hubungannya dan disebabkan oleh faktor-faktor seperti: usia lanjut, aktivitas fisik rendah, asupan serat rendah (sayur dan buah), asupan natrium tinggi (garam dan makanan olahan) dan status gizi lebih. Masalah yang ditemukan salah satunya yang penting untuk disoroti dan ditindaklanjuti adalah mayoritas kelompok lansia di Kepanjen belum pernah mendapatkan penyuluhan dan konseling gizi sama sekali. Berdasarkan kerangka konsep yang ada di atas, pengetahuan merupakan akar masalah dari kejadian hipertensi. Keterbatasan pengetahuan terkait gizi dan kesehatan mempengaruhi perilaku (kebiasaan sehari-hari) dan pemilihan makanan seseorang.

Faktor resiko hipertensi pada lansia

Kelompok lansia dengan tekanan darah yang normal memiliki rata-rata usia setahun lebih muda dibandingkan dengan kelompok dengan hipertensi. Pada kedua kelompok, baik jenis kelamin, pendidikan, pendapatan hingga tempat tinggal sama (homogen). Aktivitas fisik responden pada kelompok dengan hipertensi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok tekanan darah normal, selisihnya adalah sebanyak 21%. Kebiasaan makan sayur dan buah pada kelompok tekanan darah normal lebih besar yaitu 71% sedangkan pada kelompok dengan hipertensi adalah sebesar 62% (selisih 9%). Kesukaan terhadap cita rasa dan makanan yang asin juga berbeda, pada kelompok dengan hipertensi lebih besar 34% dibandingkan dengan kelompok dengan tekanan darah yang normal. Kesukaan terhadap makanan olahan pada kelompok dengan tekanan darah normal hanya sebesar 14% sedangkan pada kelompok dengan hipertensi lebih besar yaitu 38% (selisih 24%). 63% responden pada kelompok hipertensi berstatus gizi overweight, sedangkan pada kelompok dengan tekanan darah normal 86% berstatus gizi normal dan hanya satu orang yang memiliki status gizi overweight. Pada kelompok hipertensi hanya 25% responden saja yang secara rutin mengkonsumsi obat antihipertensi, pada kelompok dengan tekanan darah normal ada satu orang responden yang rutin mengkonsumsi obat antihipertensi karena memiliki riwayat hipertensi beberapa waktu yang lalu namun pada saat pengukuran tekanan darahnya tergolong dalam batas normal. Sebanyak 88% dari kelompok dengan hipertensi belum pernah mendapatkan penyuluhan/konseling gizi, sedangkan pada kelompok dengan tekanan darah normal 57% yang belum pernah mendapatkan konseling/penyuluhan gizi.

Daftar Pustaka:

  1. Antaud Fanny, dkk. (2013) Unhealthy behaviours and disability in older adults: three-city dijon cohort study. BMJ 2013:347.
  2. Beckett N., dkk. (2012) Immediate and late benefits of treating very elderly people with hypertension: results from active treatment extention to hypertension in the very elderly Randomized Control Trial. BMJ 2012:344.
  3. DASH DIET. 2001. National Institutes of Health: http://www.nih.gov/news/pr/apr97/Dash.htm
  4. Dong, dkk. (2009) Elder self-neglect and abuse and mortality risk in a community-dwelling population. JAMA 2009; 302(5).
  5. JNC VII. 2004: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK9633/table/A32/?report=objectonly
  6. Lwanga K. S., Lemeshow S. 1991. Sample Size Determination In Health Studies. Geneva. WHO.
  7. Riskesdas. 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  8. Watson. 2009. Nutrition in The Aged. Boca Raton: CRC Press.
  9. Laiteerapong N., dkk. (2011) Correlates of quality of life in older adults with diabetes. Diabetes Care 34:1749-1753

MASALAH KESEHATAN PADA LANSIA

Oleh: Yosephin Anandati Pranoto/Dietetic Internship FK UB

       Ketika seseorang telah memasuki usia lanjut (lansia) seluruh fungsi fisiologis tubuhnya berubah dan berbagai penyesuaian harus dilakukan untuk menjaga kondisi tetap sehat. Menurut WHO, lansia adalah mereka yang telah berusia ≥60 tahun. Kelompok usia ini semakin meningkat jumlah populasinya di seluruh dunia yang berarti usia harapan hidup yang bertambah namun juga berarti dalam beberapa tahun ke depan proporsi penduduk dunia dalam jumlah cukup besar adalah mereka yang berada di usia lanjut. Hal ini dapat menjadi suatu masalah apabila kaum lansia tidak mendapatkan perhatian khusus sedari awal. Mereka yang menginjak usia lanjut tidak lagi berada pada usia produktif dalam hidupnya dan akan memiliki tingkat kemandirian yang semakin rendah (ketergantungan akan orang lain) seiring dengan bertambahnya masalah kesehatan yang mereka miliki. Beberapa masalah yang sering ditemukan pada lansia mencakup: malnutrisi, penyakit kronis, penurunan kognitif dan disabilitas. Penyakit kronis yang sering dialami lansia contohnya adalah hipertensi, penyakit cardiovasculer, dan diabetes serta komplikasinya.

Masalah gizi pada lansia merupakan hal yang amat penting. Semakin dini kita memperhatikan masalah gizi pada seseorang akan semakin optimal pula status gizi dan kesehatan kita hingga usia lanjut nantinya. Pada lansia, masalah gizi yang dihadapi di usia produktif dapat menimbulkan penyakit kronis hingga komplikasi beberapa penyakit. Selain dampak kronis, biasanya lansia akan mengalami malnutrisi atau status gizi buruk oleh karena tidak tercapainya kebutuhan gizi yang adekuat. Pencapaian kebutuhan gizi pada lansia memiliki faktor-faktor penghambat, antara lain adalah fungsi fisiologis yang berubah pada organ pencernaan, seperti: penurunan ukuran liver, stabilisasi dan absorpsi kolesterol yang kurang efisien, fibrosis dan atrofi kelenjar saliva, pengurangan otot cerna di usus, berkurangnya kecepatan pengososngan perut, penurunan sekresi lambung. Beberapa perubahan tersebut berakibat langsung terhadap penurunan nafsu makan hingga anorexia pada lansia. Keterbatasan fisik/disabilitas juga menjadi hambatan karena lansia mengalami kesulitan untuk memperoleh makanan secara mandiri (asupan menjadi inadekuat). Status gizi yang adekuat dan dijaga dengan baik dapat menjadi faktor penting baik untuk mencegah maupun mengatasi penyakit kronis. Status gizi pada lansia juga sangat erat kaitannya dengan fungsi imunitas yang dapat mendukung proses penyembuhan dan pencegahan penyakit infeksi (Watson, 2009).

Hipertensi pada lansia sangat erat hubungannya dengan kematian dan membutuhkan usaha keras untuk meningkatkan kesadaran akan pencegahan dan perawatannya. Prevalensi penderita hipertensi meningkat seiring meningkatnya populasi lansia di dunia. Nilai tekanan darah yang tergolong dalam kondisi hipertensi adalah ≥ 140 mmHg untuk sistolik dan ≥ 90 mmHg untuk diastolik. Salah satu penelitian yang dikembangkan di Amerika, Eropa, Cina dan Tunisia membuktikan bahwa terapi antihipertensi sedini mungkin dapat memberikan manfaat kesehatan bagi lansia terutama mereka yang berusia di atas 80 tahun. Manfaat kesehatan yang didapat dari pengobatan antihipertensi pada lansia berkaitan dengan resiko seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung hingga kematian. Resiko stroke dapat turun sebesar 28% dan resiko komplikasi penyakit jantung dapat turun hingga 15% dengan pengobatan antihipertensi pada lansia. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan terapi antihipertensi yang terbaik adalah dengan mentargetkan penurunan tekanan darah hingga mencapai ≤150 mmHg. Salah satu penemuan tentang hubungan antara hipertensi pada lansia dengan kematian menyebutkan bahwa lansia yang memiliki kecepatan berjalan tinggi (≥ 0,8 m/s) memiliki resiko lebih tinggi daripada mereka yang memiliki kecepatan berjalan yang rendah (Beckett, dkk., 2012 ; Michelle, dkk., 2012).

Salah satu penyakit kronis yang sering dialami oleh lansia adalah diabetes. Beberapa penelitian yang terdahulu seringkali berfokus pada  tekanan darah, kolesterol dan kontrol gula darah untuk mencegah terjadinya komplikasi pada penderita diabetes. Namun bagaimana pencegahan dan penanganan diterapkan dalam golongan lansia belum begitu jelas, maka sebuah penelitian di Amerika melakukan evaluasi hubungan antara kulaitas hidup lansia dengan komplikasi diabetes. Penelitian ini menemukan bahwa kualitas hidup lansia yang memiliki diabetes amat penting untuk diperhatikan karena dapat mencegah timbulnya komplikasi diabetes. Yang dimaksud dengan kualitas hidup adalah antara lain: fungsi fisik, keterbatasan aktivitas karena gangguan fisik, rasa nyeri pada tubuh, vitalitas, fungsi sosial, keterbatasan aktivitas emosional, kesehatan mental dan persepsi kesehatan secara umum. Selain kualitas hidup, mengatasi sindroma geriatri dan mencegah hipoglikemia juga menjadi prioritas utama dalam mencegah komplikasi diabetes pada lansia (Laiteerapong, dkk., 2011).

Disabilitas karena lumpuh dan cacat fisik juga sering ditemukan pada lansia dan hal ini turut mempengaruhi kemandirian untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk pemenuhan kebutuhan gizi. Resiko disabilitas meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Yang dimaksud dengan disabilitas adalah kondisi di mana seseorang mengalami hambatan dalam mobilitas, aktivitas dasar dan aktivitas sehari-hari. Menurut Artaud, dkk. (2013), disabilitas juga dapat muncul oleh karena kebiasaan/perilaku yang tidak sehat. Yang dimaksud dengan perilaku yang tidak sehat antara lain: aktivitas fisik yang rendah, konsumsi buah dan sayur < 1 kali/hari, merokok aktif dan ketergantungan terhadap alkohol. Disimpulkan bahwa lansia dengan tiga perilaku tidak sehat memiliki resiko untuk mengalami disabilitias 2,5 kali lipat dibandingkan lansia dengan kebiasaan hidup yang sehat. Maka sebaiknya memang sedini mungkin kita melakukan peningkatan kualitas hidup dengan melakukan aktivitas fisik rutin, menjaga pola makan agar sesuai kaidah gizi seimbang dan menghindari kebiasaan merokok. Selain perilaku hidup sehat, bagaimana secara mental dan sosial lansia berinteraksi juga ternyata dapat menentukan resiko kematian mereka. Kelalaian terhadap diri akibat fungsi kognitif dan fisik pada lansia yang terbatas dapat meningkatkan resiko mortalitas. Kasus kelalaian atau bahkan penyiksaan yang dialami lansia hingga kini kurang mendapatkan perhatian terutama pada negara dengan populasi lansia yang semakin meningkat di dunia ini (Dong, dkk., 2009).

 

Daftar Pustaka:

Antaud Fanny, dkk. (2013) Unhealthy behaviours and disability in older adults: three-city dijon cohort study. BMJ 2013:347.

Beckett N., dkk. (2012) Immediate and late benefits of treating very elderly people with hypertension: results from active treatment extention to hypertension in the very elderly Randomized Control Trial. BMJ 2012:344.

Dong, dkk. (2009) Elder self-neglect and abuse and mortality risk in a community-dwelling population. JAMA 2009; 302(5).

Laiteerapong N., dkk. (2011) Correlates of quality of life in older adults with diabetes. Diabetes Care 34:1749-1753.

Odden C. Michelle, dkk.  (2012) Rethinking the association of high blood pressure with mortality in elderly adults: the impact of frailty. Arch Intern Med. 172(15):1162-1168.

Watson. 2009. Nutrition in The Aged. Boca Raton: CRC Press.

PEMENUHAN KEBUTUHAN GIZI PASIEN INTENSIVE CARE UNIT (CRITICALLY ILL) DENGAN ENTERAL NUTRITION (EN)

Oleh: Yosephin Anandati Pranoto/Dietetic Internship FK UB

Sebanyak 75% pasien ICU ditemukan mengalami malnutrisi akut pada saat masuk (first admission). Kondisi penurunan status gizi selama masa rawat secara signifikan lebih parah terjadi pada pasien dengan status gizi buruk dibandingkan dengan kelompok pasienyang beresiko mengalami malnutrisi berdasarkan hasil skrining gizi (Kim dan Choi-Kwon, 2011).

Early enteral nutrition (early EN) adalah memberikan nutrisi enteral dalam kurun waktu 24 jam pasien masuk ruang ICU/timbulnya critical illness. Early EN terbukti dapat mencegah kerusakan yang timbul pada saluran pencernaan terutama fili-fili usus yang diakibatkan oleh puasa. Hal ini dapat memberikan keuntungan secara klinis dan telah dibuktikan oleh banyak penelitian dan review meta-analysis. Early EN terbukti dapat menurunkan angka mortalitas dan pneumonia serta dapat mempertahankan fungsi imunitas pada pencernaan. Target early EN adalah memberikan formula enteral rata-rata 32ml/jam kemudian meningkatkan secara bertahap sesuai daya terima pasien terhadap pemberian makanan enteral (Doig, 2013).

Berdasarkan kajian meta analysis terhadap beberapa penelitian dengan disain RCT membuktikan bahwa early feeding pada pasien dapat menurunkan kejadian komplikasi infeksi dan lama perawatan di ICU. Turunnya kejadian komplikasi infeksi dikarenakan dengan pemberian early feeding dapat mempertahankan dan meningkatakan imunitas tubuh pada kondisi kritis. Disarankan bahwa pemberian nutrisi enteral pada pasien di ICU dilakukan dalam waktu 12 jam sejak masuknya pasien, dalam kondisi kritis seperti apapun. Tidak ada manfaat yang dapat dibuktikan dengan melakukan penundaan support nutrisi pada pasien. Intake kalori yang disarankan pada pasien sepsis adalah 25-30 kkal/kgBB/hari dengan asupan protein sebanyak 1,5g/kgBB/hari. Beberapa penelitian eksperimental menyatakan bahwa memberikan asupan  berdasarkan metabolic expenditure/BMR saja dapat memperparah kondisi inflamasi dan meningkatkan resiko mortalitas pada pasien dengan sepsis. Prinsip manajemen nutrisi pada pasien sepsis yang terbaik adalah: do it early, do it gastrically, do it with immune-enhancingdiet and do it slowly (Aguilar-Nascimento, dkk., 2012). Tujuan dari enteral feeding adalah untuk memenuhi kebutuhan kalori dan zat gizi pasien tanpa menimbulkan efek yang memperparah kondisi/keluhan pasien. Keputusan untuk enteral feeding meliputi antara lain:

  • Rute: gastric vs jejunal à biasanya rute melalui gastric lebih aman karena mudah menempatkan dan memonitor pipa makanan (simple), rute melalui jejunal membutuhkan waktu yang lebih banyak dan harus mendapatkan verifikasi dan panduan secara radiologis (kompleks)
  • Formula enteral: kebutuhan nutrient spesifik pada pasien
  • Jumlah dan frekuensi pemberian formula: bolus vs continuous à pemberian dengan cara bolus tidak boleh pada pemberian rute via jejunal

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pengosongan lambung membutuhkan waktu pemanasan atau pemberian makan pada pasien dengan enteral feeding harus dilakukan secara perlahan dengan jumlah yang sedikit. Pemberian enteral feeding yang dimulai dengan perlahan dan jumlah sedikit oleh tenaga medis bertujuan untuk mengevaluasi kegagalan pemberian makan, namun pada kenyataannya sebelum hasil didapatkan biasanya kekurangan gizi/wasting yang terjadi pasien sudah menjadi terlalu parah dan memperburuk kondisi pasien. Oleh karena pertimbangan tersebut, maka pemberian enteral feeding dengan cara tetesan perlahan sebaiknya diabaikan karena tidak ada perbedaan outcome pasien yang relevan antara pemberian makan dengan perlahan dan sedikit-sedikit dibandingkan dengan segera memberikan makanan sesuai target kebutuhan pasien. Justru dengan memberikan jumlah asupan makanan segera dan sesuai dengan target kebutuhan pasien akan menguntungkan bagi kondisi pasien secara umum dan tenaga medis untuk mengetahui batasan toleransi pemberian feeding enteral pada pasien dan dengan cepat mengetahui penyesuaian yang harus dilakukan setelahnya (Rolandelli, dkk., 2005).

 

Kegawatan dan Kondisi Kritis Pada Pasien ICU

Seseorang yang menjalani masa rawat di Intensive Care Unit (ICU) atau intermediate care unit dalam periode waktu yang lama (mingguan hingga bulanan) biasanya dapat disebut dengan istilah Chronic Critical Illness (CCI). Kondisi CCI ditemukan pada 5-10% dari pasien yang ada di ICU. Kegagalan untuk dilakukan penyapihan dari ventilator, kelumpuhan dan hipoalbuminemia (kwarshiorkor-like malnutrition) ,neuroendocrine exhaustion, penyakit metabolism tulang, myopathy dan naturopathy merupakan beberapa manifestasi dari CCI. Pasien dengan CCI akan berada dalam perawatan intensif (ICU) dalam periode waktu yang lama pasien dengan CCI membutuhkan sumber daya yang langka dalam penanganannya dan kebanyakan kasus pasien meninggal oleh karena komplikasi infeksi. Kondisi medis yang terjadi pada pasien dengan CCI antara lain: kebutuhan akan tracheostomy dan ketidakmampuan tubuh untuk mencapai nilai normal serum albumin. Kondisi hipoalbuminemia dan malnutrisi pada pasien CCI merupakan hasil dari respon stress tubuh yang berkepanjangan (dalam waktu lama) dengan katabolisme hiperadregenic  persisten. Pasien dengan CCI mengalami kondisi hiperkatabolik dan bukan hipermetabolik. Hal ini menyebabkan hilangnya massa otot diafragmatik dan kekuatan otot pernafasan. Pemenuhan nutrisi pada pasien CCI difokuskan untuk mendukung massa protein tubuh atau tujuan utama dari pemberian makan adalah untuk mencapai nilai keseimbangan nitrogen (mendekati) positif. 1,5-2,0 g protein/kgBB pasien diberikan untuk menjaga massa otot dan kalori selain dari protein dipenuhi minimal untuk kebutuhan metabolism/BMR. Yang harus diwaspadai dari pasien CCI adalah sindroma refeeding dan overfeeding. Intoleransi pasien terhadap pemberian makanan melalui enteral tube harus selalu dimonitor, seperti munculnya  peningkatan asam lambung, distensi abdomen, mual-muntah, aspirasi, penumonitis dan diare. Jika terjadi intoleransi terhadap pemberian makanan enteral maka support dari parenteral dapat digunakan (Rolandelli, dkk., 2005).

Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia dan menjadi penyebab utama kematian pada pasien yang dirawat di noncoronary intensive care units/Intensive Care Unit (ICU). Tingkat kefatalan pasien sepsis adalah 30-40% kasus yang diduga akan terus meningkat seiring dengan pertambahan populasi usia lanjut dan juga banyaknya pengobatan menggunakan immunosuppressive agents. Pada pasien dengan kondisi kritis penggunaan total parenteral nutrition (TPN) berhubungan dengan penurunan imunitas dan peningkatan insidensi infeksi dan komplikasi dan juga meningkatkan resiko kematian dibandingkan dengan penggunaan enteral nutrition. Pasien dengan sepsis biasanya akan mengalami resiko yang tinggi terhadap komplikasi dan kematian dengan digunakannya TPN, oleh karena itu sebaiknya nutrisi enteral sebaiknya menjadi pilihan yang paling baik dan aman kecuali apabila ditemukan adanya disfungsi pada usus/GI track pasien. Sudah banyak penelitian yang menemukan dan mendukung bahwa konsep pemberian makanan enteral pada pasien dapat meningkatkan utilisasi zat gizi, mencegah iskemia pada usus dan juga meningkatkan performa sirkulasi darah.

Pemenuhan nutrisi pada pasien dalam kondisi kritis telah banyak didukung oleh penelitian di dunia dan sebaiknya dilakukan secara cepat dan sesegera mungkin memenuhi kebutuhan total energi dan zat gizi. EN merupakan pilihan yang diprioritaskan dan  harusdiberikan dalam periode waktu 24-48 jam setelah pasien masuk ruang ICU. Walaupun setelah dilakukan operasi seperti GI anastomosis, pemberian nutrisi secara oral maupun enteral tidak hanya dikatakan aman tapi juga berhubungan dengan peningkatan kondisi penyembuhan dan berkurangnya resiko komplikasi. Pemberian EN dengan kandungan immune nutrients dapat meningkatkan proses perbaikan kondisi pasien yang mengalami kondisi kritis. Beberapa nutrien yang dikategorikan sebagai immune nutrients yang dapat dimasukkan ke dalam formula EN adalah arginine. Defisiensi arginin biasanya terjadi setelah dilakukan trauma pasca operasi, pemberian EN perioperatif dapat menhindarkan pasien dari resiko terjadinya komplikasi infeksi dan gangguan pada anastomotis. Arginine bersamaan dengan omega tiga yang diberikan pada suplementasi perioperatif dapat mengembalikan fungsi T-limfosit, termasuk CD4 count yang menguntungkan pada pasien bedah. Arginine juga dapat mempercepat penyembuhan luka dengan meningkatkan produksi poliamines (Aguilar-Nascimento, 2012).

 

Faktor Penghambat Pemenuhan Kebutuhan Gizi Pada Pemberian Enteral Nutrition

Walaupun perkembangan administrasi EN saat ini telah berkembang dari tahun ke tahun dalam hal keahlian, material dan formula, sebuah artikel review menggarisbawahi terjadinya pemenuhan gizi pada pasien ICU yang inadekuat dikarenakan oleh beberapa faktor penghambat. Terjadinya ketidak-adekuat-an EN untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan kondisi kritis sangat sering ditemukan.Hanya sekitar 50-95% pemenuhan energi dan rata-rata 38-82% untuk pemenuhan asupan protein yang tercapai. Selama dirawat di ICU hanya 14-52% pasien yang berhasil mencapai target asupannya. Kondisi di mana pemenuhan kebutuhan pasien tidak tercapai dikatakan sebagai kondisi underfeeding. Underfeeding berhubungan secara signifikan terhadap munculnya outcome yang buruk pada pasien seperti misalnya:

  • Infeksi
  • Luka tekan
  • Sulitnya penyembuhan luka
  • Lama rawat inap yang panjang
  • Peningkatan morbiditas dan mortalitas

Beberapa kondisi yang menjadi penghalang dalam usaha pemenuhan nutrisi pasien dengan EN yang memunculkan kondisi underfeeding antara lain adalah:

  • Inisiasi EN yang ditunda
  • Frekuensi dan jumlah pemberian yang inadekuat (preskripsi yang kurang)
  • Tidak terpenuhinya preskripsi yang seharusnya diberikan pada pasien
  • Interupsi proses pemberian EN

Faktor terkait karakteristik pasien sendiri ternyata tidak memiliki hubungan signifikan terhadap terjadinya underfeeding seperti status gizi dan keparahan penyakit.Interupsi pemberian EN yang juga menyebabkan tidak terpenuhinya preskripsi yang seharusnya diberikan pada pasien disebabkan oleh misalkan: tes untuk diagnosis, prosedur operasi, intoleransi pada saluran pencernaan, gangguan pada feeding tube dan prosedur rutin keperawatan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menghindari underfeeding pada pasien ICU adalah menetapkan dan menjalankan protokel baku untuk pemberian asupan gizi yang harus dijalankan oleh tenaga medis terutama perawat. Pada proses pemberian EN, early feeding dan rapid progression untuk mencapai target pemenuhan energi dan protein berkontribusi positif terhadap terpenuhinya asupan gizi pasien ICU(Kim, dkk., 2012).

 

Parenteral Nutrition Support

Pemberian Parenteral Nutrition (PN) dini dengan kontraindikasi relatif terhadap pemberian EN tidak menimbulkan perbedaan signifikan pada pasien ICU. Dengan support dari parenteral resiko untuk dilakukan tindakan invasif pemasangan ventilator berkurang namun tidak mengurangi masia rawat di ICU atau lama rawat inap di RS secara keseluruhan (Doig, dkk., 2013). EN tetap disarankan untuk menjadi pilihan pertama bagi pasien karena penggunaannya yang secara signifikan dapat menekan terjadinya komplikasi infeksius pada pasien dengan kondisi kritis dan lebih ekonomis dibandingkan dengan penggunaan PN. Penggunaan PN pada pasien dengan kondisi kritis meningkatkan resiko terjadinya hiperglikemi (Gramlich, dkk.,2004).

Hingga kini penggunaan PN pada pasien kritis masih diperdebatkan terkait efeknya yang dapat menimbulkan komplikasi infeksi pada pasien walaupun dalam kondisi pasien tidak dapat menerima EN. Pedoman yang dikeluarkan oleh Amerika dan Eropa menunjukkan perbedaan pendapat. Pedoman yang dikeluarkan pada tahun 2009 oleh European Society for Clinical Metabolism and Nutrition mengatakan bahwa setelah 2-3 hari pemberian EN tidak dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien maka dalam waktu 24-48 jam, PN dapat diberikan. Sedangkan guideliness yang dikeluarkan tahun 2009 oleh American Society of Enteral and Parenteral Nutrition mengatakan bahwa pasien ICU yang selama tujuh hari pertama tidak dapat diberikan EN maka dukungan gizi yang lain tidak perlu untuk diberikan, termasuk PN(Aguilar-Nascimento, 2012).

Daftar Pustaka:

  • Kim Hyunjung., dkk. 2012. Why patients in critical care do not receive adequate enteral nutrition? A review of the literature. Journal of Critical Care (2012) 27,702-713.
  • Kim Hyunjung. Choi-Kwon Smi. 2011. Changes in nutritional status in ICU patients receiving enteral tube feeding: a prospective descriptive study. Intensive and Critical Care Nursing (2011)27,194-201.
  • Gramlich Leah., dkk. 2004. Does Enteral Nutrition Compared to Parenteral Nutrition Result in Better Outcomes in Critically Ill Adult Patients? A Systematic Review of the Literature. Elsevier Nutrition 20:843-848.
  • Doig S. Gordon., dkk. 2013. Early Enteral Nutrition in Critical Illness: Clinical Evidence and Pathophysiological Rationale. Australia: Northern Clinical School Intensive Care Research Unit.
  • Aguilar-Nascimento E. Jose., dkk. 2012. Optimal timing for the intitiation of enteral and parenteral nutrition in critical medical and surgical condition. Elsevier Nutrition 28 (2012) 840-843.
  • Doig S. Gordon., dkk. 2013. Early parenteral nutrition in critically ill patients with short-term relative contraindications to early enteral nutrition. JAMA, May 22/29,2013;309:20.
  • Rolandelli H. Rolando., dkk. 2005. Enteral and Tube Feeding 4th USA: Elsevier.